LAPORAN PRAKTEK
KERJA LAPANGAN
TATA CARA
PEMELIHARAAN
KAMBING PEJANTAN
PERANAKAN ETAWA (PE)
DI BBIB SINGOSARI
OLEH :
ARLAN
KATILI

PROGRAM
STUDI PETERNAKAN
JURUSAN
PETERNAKAN
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
NEGERI GORONTALO
2016
LEMBAR
PENGESAHAN
TATA LAKSANA PEMELIHARAAN
KAMBING PEJANTAN PERANAKAN ETAWA
(PE)
DI BALAI BESAR INSEMINASI BUATAN
– SINGOSARI
(BBIB-SINGOSARI)
Oleh :
ARLAN
KATILI
Telah Memenuhi
Syarat Untuk Diterima
Sebagai Laporan
Akhir PKL Oleh Pembimbing
Disetujui
Tanggal : 31 November 2016
MENGETAHUI
Dosen
Pembimbing Dosen
Penguji
Suparmin
Fathan, S.Pt, M.Si Dr. Muhammad Sayuti
M, S.Pt, M.Si
NIP.
19710403 200212 1 001 NIP.
19671231 200204 1 001
Ketua Jurusan
Ir. Nibras
Karnain Laya, MP
NIP. 19661206
200112 2 001
KATA
PENGANTAR
Puji
syukur senantiasa penyusun panjatkan kepada Allah AWT, atas segala rahmat dan
hidayah-nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan laporan praktek kerja
lapangan dengan judul “ TATA LAKSANA PEMELIHARAAN KAMBING PEJANTAN
PERANAKAN ETAWA (PE) “.
Penyusun menyadari penyusunan laporan ini takkan
trewujud tanpa bantuan, bimbingan serta dorongan dari berbagai pihak. Oleh
karena itu pada kesempatan ini penyusun mengucapkan terima kasih yang sebesar –
besar besarnya untuk semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan laporan
ini :
1.
Bapak
Dr. Mohamad Ikbal Bahua, Sp. Msi Selaku Dekan Fakultas Pertanian Universitas
Negeri Gorontalo.
2. Ibu Ir.Nibras
K. Laya, MP selaku
Ketua Jurusan Fakultas Ilmu-Ilmu Pertanian di Universitas Negeri Gorontalo.
3.
Bapak
Suparmin Fathan, S.Pt, M.Si Selaku
pembimbing praktek kerja lapangan (PKL) di Universitas Negeri Gorontalo.
4.
Ibu
Drh. Enniek Herwijanti, MP Selaku Pimpinan Balai Besar Inseminasi Buatan
Singosari – Malang malang yang telah memberi ijin kepada penulis untuk
melaksanakan praktek kerja lapangan (PKL) Di BBIB Singosari.
5.
Bapak
Iwan Kurniawan Selaku Pembimbing Lapangan yang telah banyak memberi ilmu
pengetahuan dan pengalaman selama di peternakan kambing pejantan PE BBIB
Singosari
6.
Bapak
dan ibu pegawai serta seluruh staf Balai Besar Inseminasi Buatan BBIB Singosari
– Malang Atas perhatian dan ilmu yang diberikan selama PKL.
7.
Ayah,
Ibu, Kakak, adik, Pacar serta keluarga yang selalu memberikan kasih sayang
dukungan, nasehat, motivasi, serta doanya.
8.
Teman
– Teman Praktek kerja lapangan (PKL) Universitas Negeri Gorontalo Di Balai
Besar Inseminasi Buatan Singosari, Fajrin, Mustar, Roni, Wawan, Zul, Ike,
Purniawati, Ana oktaviana, Delawati. Terima kasih atas bantuan dan kerja
samanya selama (PKL).
Terimakasih juga buat
UPT PT & HMT Singosari- Malang
yang telah menyediakan tempat tinggal sehingga kami bisa menjalankan kegiatan
PKL dan penyusunan laporan ini. Penyusun berharap laporan ini dapat bermanfaat
bagi penyusun maupun pembaca untuk menjalankan tugas dimasa depan. Penyusun
menyadari penulisan laporan ini jauh dari kesempurnaan oleh karena itu penyusun
berharap ada kritikan dan saran yang membangun demi kesempurnaan laporan ini.
Singosari,
20 Oktober 2016
Penyusun
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ternak kambing khususnya kambing Peranakan
Ettawa (PE), Merupakan salah satu sumber daya penghasil bahan makanan berupa daging dan susu. Seiring hal tersebut peternakan kambing memiliki peluang usaha yang cukup besar khususnya untuk kambing pejantan PE memiliki nilai
ekonomi tinggi dibandingkan kambing betina walaupun kambing betina PE dapat
menghasilkan susu tetapi harga jual kambing betina lebih murah dibandingkan
kambing pejantan.
Oleh
karena itu, Perlu tata cara pemeliharaan yang baik dalam menghadapi berbagai
permasalahan dalam peternakan khususnya peternakan kambing pejantan PE, Baik
dari segi pemilihan lokasi kandang, Konstruksi kandang. Pemeliharaan, Pemberian
pakan, Dan pecegahan penyakit yang baik.
Dengan
Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknolgi dibidang peternakan, Maka untuk
menanggapi beberapa permasalahan dalam tata cara pemeliharaan kambing pejantan
PE. Mahasiswa Peternakan Universitas Negeri Gorontalo di terjunkan langsung di
BBIB singosari - Malang dalam rangka praktek kerja lapangan (PKL).
Balai
besar inseminasi buatan singosari-Malang merupakan unit pelaksana teknis yang
terletak di singosari-malang jawa timur. Balai besar inseminasi buatan
singosari merupakan salah satu BBIB nasional yang diberi mandat oleh pemerintah
pusat dalam penyediaan semen beku ternak unggul yang di distribusikan
kedaerah-daerah yang akan dikembangkan populasi peternakannya. Dan Balai Besar
Inseminasi Buatan Singosari-Malang memiliki komitmen yang kuat untuk memajukan
dunia peternakan di indonesia.
1.2 Identifikasi dan rumusan Masalah
Peternakan
kambing dalam perkembanganya tidaklah semudah yang kita bayangkan. Banyak hal
yang menjadi masalah dalam perkembanganya, Khusunya Permasalahan yang sering
terjadi di Peternak pada umumnya dan khususnya peternak di di Gorontalo adalah
sebagai berikut :
1. Pemeliharaan
bersifat tradisional,
2. Kurangnya
pengalaman Dalam tata cara pemeliharaan kambing dengan baik,
3. Terbatasnya
Ketersediaan bahan pakan
4. Keterbatasan
fasilitas yang menimbulkan efek langsung pada proses produksi.
1.3 Tujuan Dan Manfaat Kegiatan
1. Tujuan
a. Meningkatkan
pemahaman dan memperluas wawasan mahasiswa mengenai praktek yang sebenarnya di
lapangan dibandingkan dengan ilmu yang ditekuni dalam perkuliahan.
b. Memberikan
wahana bagi mahsiswa untuk mengembangkan inspirasi untuk bahan penyusunan tugas
akhir.
c. Meningkatkan
keterampilan mahasiswa sehingga dapat digunakan sebagai bekal untuk memasuki
lapangan kerja.
2. Manfaat
Kegiatan
Berbekal dari pengalaman yang diperoleh dari Praktek Kerja Lapangan (PKL),
Mahasiswa dapat mengetahui masalah yang timbul dan solusi yang diperlukan dalam
proses tatalaksana pemeliharaan ternak serta lebih siap dalam menghadapi dunia
kerja. Selain itu, Mahasiswa memiliki pengetahuan dan pengalaman yang berharga
dalam Tatalaksana Pemeliharaan kambing pejantan (PE) yang baik Di BBIB Singosari,
Meliputi : Pakan, Kandang, Dan Pencegahan Penyakit.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Kambing
Peranakan Etawa (PE)
Penjajah
Belanda membawa kambing yang berasal dari India yang dikenal dengan Jamunapari.
Jamunapari ini dibawa penjajah Belanda ke Indonesia untuk memenuhi kebutuhan
susu untuk pemerintah kolonial Belanda, Tetapi di Indonesia Jamunapari
dikenalkan dengan Nama kambing Etawa, Karena kambing Etawa tadi jumlahnya
terbatas maka kambing Etawa tersebut disilangkan dengan kambing asli Indonesia
yaitu kambing kacang yang kemudian hasil persilangan tersebut dikenal dengan
kambing Peranakan Etawa (PE) ( Murtidjo,1993).
Kambing banyak dipelihara oleh
penduduk pedesaan Indonesia (Mulyono, 2003), Karena pemeliharaannya lebih mudah
dilakukan dibandingkan dengan ternak ruminansia besar. Kambing cepat berkembang
biak dan pertumbuhan anaknya juga tergolong cepat.
Kambing Peranakan Etawa adalah
ternak dwi guna, yaitu sebagai penghasil susu dan sebagai penghasil daging
(Williamson dan Payne, 1993). Kambing PE adalah bangsa kambing yang paling
populer dan dipelihara secara luas di India dan Asia Tenggara (Devendra dan
Burns, 1994). Ciri-ciri kambing PE adalah warna bulu belang hitam putih atau
merah dan coklat putih; hidung melengkung; rahang bawah lebih menonjol; baik
jantan maupun betina memiliki tanduk; telinga panjang terkulai; Memiliki kaki
dan bulu yang panjang (Sosroamidjoyo, 1984). Kambing PE telah beradaptasi
dengan baik terhadap kondisi dan habitat Indonesia (Mulyono, 2003).
Kambing merupakan hewan domestikasi tertua yang telah
bersosialisasi dengan manusia lebih dari 1000 tahun. Kambing tergolong pemamah
biak, berkuku genap dan memiliki sepasang tanduk yang melengkung. Kambing
merupakan hewan pegunungan hidup dilereng-lereng yang curam yang meiliki sifat
adaptasi yang cukup baik terhadap perubahan musim (Sarwono,2009). Mulyono dan
Sarwono (2010) menyatakan kambing Peranakan Etawa (PE) merupakan hasil
persilangan antara kambing Etawa dari India dengan kambing kacang yang penampilannya
mirip Etawa tapi lebih kecil. Kambing Peranakan Etawa (PE) memiliki dua
kegunaan, Yaitu sebagai penghasil susu (perah) dan kambing potong.
Sodiq dan Abidin (2008) menyatakan bahwa kambing Etawa berasal
dari wilayah Jamnapari (India), sehingga kambing ini disebut juga sebagai
kambing Jamnapari. Kambing Etawa merupakan kambing yang paling populer di Asia
Tenggara. Di negara asalnya kambing Etawa termasuk kambing tipe dwiguna, yaitu
sebagai penghasil susu dan daging. Kambing Etawa memiliki postur tubuh besar,
telinga panjang menggantung, bentuk muka cembung serta bulu dibagian paha
belakang sangat panjang. Subandriyo (1995) menyatakan bahwa ciri khas kambing
Peranakan Etawa (PE) antara lain bentuk muka cembung melengkung dan dagu
berjanggut, telinga panjang, lembek menggantung, dan ujungnya agak berlipat,
ujung tanduk agak melengkung, tubuh tinggi, pipih, bentuk garis punggung yang
mengombak ke belakang, bulu tumbuh panjang di bagian leher, pundak, punggung
dan paha, bulu panjang dan tebal. Warna bulu ada yang tunggal putih, hitam dan
coklat, tetapi jarang ditemukan. Kebanyakan terdiri dari dua atau tiga pola
warna, yaitu belang hitam, belang coklat dan putih betotol hitam.
BAB III
METODE
PELAKSANAAN
3.1 Waktu dan tempat pelaksanaan
Praktek Kerja Lapangan (PKL)
dilaksanakan Mulai tanggal 22 September 2016 sampai 22 Oktober 2016. Lokasi
kegiatan PKL di Balai Besar Inseminasi Buatan Singosari-Malang.
3.2 Variabel yang Diamati
Variabel yang diamati adalah Sebagai
Berikut :
1. Pengamatan
Lokasi kandang Kambing Pejantan PE di BBIB Singosari,
2. Tata
Cara Pemeliharaan Kambing Pejantan PE Di BBIB singosari yang meliputi:
a. Perkandangan,
b. Pemberian
pakan yang baik, Dan
c. Pencegahan
Penyakit.
3.3 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang
digunakan dalam kegiatan PKL ini adalah partisipasi aktif dalam proses
pemeliharaan dan observasi secara langsung yaitu dengan pengisian daftar hadir
masuk dan pulang serta mengamati proses tata laksana pemeliharaan di peternakan
kambing pejantan (PE) di BBIB singosari-Malang serta hasil teori dan wawancara
di lapangan.