LAPORAN PRAKTEK
KERJA LAPANGAN
TATA CARA
PEMELIHARAAN
KAMBING PEJANTAN
PERANAKAN ETAWA (PE)
DI BBIB SINGOSARI
OLEH :
ARLAN
KATILI

PROGRAM
STUDI PETERNAKAN
JURUSAN
PETERNAKAN
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
NEGERI GORONTALO
2016
LEMBAR
PENGESAHAN
TATA LAKSANA PEMELIHARAAN
KAMBING PEJANTAN PERANAKAN ETAWA
(PE)
DI BALAI BESAR INSEMINASI BUATAN
– SINGOSARI
(BBIB-SINGOSARI)
Oleh :
ARLAN
KATILI
Telah Memenuhi
Syarat Untuk Diterima
Sebagai Laporan
Akhir PKL Oleh Pembimbing
Disetujui
Tanggal : 31 November 2016
MENGETAHUI
Dosen
Pembimbing Dosen
Penguji
Suparmin
Fathan, S.Pt, M.Si Dr. Muhammad Sayuti
M, S.Pt, M.Si
NIP.
19710403 200212 1 001 NIP.
19671231 200204 1 001
Ketua Jurusan
Ir. Nibras
Karnain Laya, MP
NIP. 19661206
200112 2 001
KATA
PENGANTAR
Puji
syukur senantiasa penyusun panjatkan kepada Allah AWT, atas segala rahmat dan
hidayah-nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan laporan praktek kerja
lapangan dengan judul “ TATA LAKSANA PEMELIHARAAN KAMBING PEJANTAN
PERANAKAN ETAWA (PE) “.
Penyusun menyadari penyusunan laporan ini takkan
trewujud tanpa bantuan, bimbingan serta dorongan dari berbagai pihak. Oleh
karena itu pada kesempatan ini penyusun mengucapkan terima kasih yang sebesar –
besar besarnya untuk semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan laporan
ini :
1.
Bapak
Dr. Mohamad Ikbal Bahua, Sp. Msi Selaku Dekan Fakultas Pertanian Universitas
Negeri Gorontalo.
2. Ibu Ir.Nibras
K. Laya, MP selaku
Ketua Jurusan Fakultas Ilmu-Ilmu Pertanian di Universitas Negeri Gorontalo.
3.
Bapak
Suparmin Fathan, S.Pt, M.Si Selaku
pembimbing praktek kerja lapangan (PKL) di Universitas Negeri Gorontalo.
4.
Ibu
Drh. Enniek Herwijanti, MP Selaku Pimpinan Balai Besar Inseminasi Buatan
Singosari – Malang malang yang telah memberi ijin kepada penulis untuk
melaksanakan praktek kerja lapangan (PKL) Di BBIB Singosari.
5.
Bapak
Iwan Kurniawan Selaku Pembimbing Lapangan yang telah banyak memberi ilmu
pengetahuan dan pengalaman selama di peternakan kambing pejantan PE BBIB
Singosari
6.
Bapak
dan ibu pegawai serta seluruh staf Balai Besar Inseminasi Buatan BBIB Singosari
– Malang Atas perhatian dan ilmu yang diberikan selama PKL.
7.
Ayah,
Ibu, Kakak, adik, Pacar serta keluarga yang selalu memberikan kasih sayang
dukungan, nasehat, motivasi, serta doanya.
8.
Teman
– Teman Praktek kerja lapangan (PKL) Universitas Negeri Gorontalo Di Balai
Besar Inseminasi Buatan Singosari, Fajrin, Mustar, Roni, Wawan, Zul, Ike,
Purniawati, Ana oktaviana, Delawati. Terima kasih atas bantuan dan kerja
samanya selama (PKL).
Terimakasih juga buat
UPT PT & HMT Singosari- Malang
yang telah menyediakan tempat tinggal sehingga kami bisa menjalankan kegiatan
PKL dan penyusunan laporan ini. Penyusun berharap laporan ini dapat bermanfaat
bagi penyusun maupun pembaca untuk menjalankan tugas dimasa depan. Penyusun
menyadari penulisan laporan ini jauh dari kesempurnaan oleh karena itu penyusun
berharap ada kritikan dan saran yang membangun demi kesempurnaan laporan ini.
Singosari,
20 Oktober 2016
Penyusun
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ternak kambing khususnya kambing Peranakan
Ettawa (PE), Merupakan salah satu sumber daya penghasil bahan makanan berupa daging dan susu. Seiring hal tersebut peternakan kambing memiliki peluang usaha yang cukup besar khususnya untuk kambing pejantan PE memiliki nilai
ekonomi tinggi dibandingkan kambing betina walaupun kambing betina PE dapat
menghasilkan susu tetapi harga jual kambing betina lebih murah dibandingkan
kambing pejantan.
Oleh
karena itu, Perlu tata cara pemeliharaan yang baik dalam menghadapi berbagai
permasalahan dalam peternakan khususnya peternakan kambing pejantan PE, Baik
dari segi pemilihan lokasi kandang, Konstruksi kandang. Pemeliharaan, Pemberian
pakan, Dan pecegahan penyakit yang baik.
Dengan
Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknolgi dibidang peternakan, Maka untuk
menanggapi beberapa permasalahan dalam tata cara pemeliharaan kambing pejantan
PE. Mahasiswa Peternakan Universitas Negeri Gorontalo di terjunkan langsung di
BBIB singosari - Malang dalam rangka praktek kerja lapangan (PKL).
Balai
besar inseminasi buatan singosari-Malang merupakan unit pelaksana teknis yang
terletak di singosari-malang jawa timur. Balai besar inseminasi buatan
singosari merupakan salah satu BBIB nasional yang diberi mandat oleh pemerintah
pusat dalam penyediaan semen beku ternak unggul yang di distribusikan
kedaerah-daerah yang akan dikembangkan populasi peternakannya. Dan Balai Besar
Inseminasi Buatan Singosari-Malang memiliki komitmen yang kuat untuk memajukan
dunia peternakan di indonesia.
1.2 Identifikasi dan rumusan Masalah
Peternakan
kambing dalam perkembanganya tidaklah semudah yang kita bayangkan. Banyak hal
yang menjadi masalah dalam perkembanganya, Khusunya Permasalahan yang sering
terjadi di Peternak pada umumnya dan khususnya peternak di di Gorontalo adalah
sebagai berikut :
1. Pemeliharaan
bersifat tradisional,
2. Kurangnya
pengalaman Dalam tata cara pemeliharaan kambing dengan baik,
3. Terbatasnya
Ketersediaan bahan pakan
4. Keterbatasan
fasilitas yang menimbulkan efek langsung pada proses produksi.
1.3 Tujuan Dan Manfaat Kegiatan
1. Tujuan
a. Meningkatkan
pemahaman dan memperluas wawasan mahasiswa mengenai praktek yang sebenarnya di
lapangan dibandingkan dengan ilmu yang ditekuni dalam perkuliahan.
b. Memberikan
wahana bagi mahsiswa untuk mengembangkan inspirasi untuk bahan penyusunan tugas
akhir.
c. Meningkatkan
keterampilan mahasiswa sehingga dapat digunakan sebagai bekal untuk memasuki
lapangan kerja.
2. Manfaat
Kegiatan
Berbekal dari pengalaman yang diperoleh dari Praktek Kerja Lapangan (PKL),
Mahasiswa dapat mengetahui masalah yang timbul dan solusi yang diperlukan dalam
proses tatalaksana pemeliharaan ternak serta lebih siap dalam menghadapi dunia
kerja. Selain itu, Mahasiswa memiliki pengetahuan dan pengalaman yang berharga
dalam Tatalaksana Pemeliharaan kambing pejantan (PE) yang baik Di BBIB Singosari,
Meliputi : Pakan, Kandang, Dan Pencegahan Penyakit.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Kambing
Peranakan Etawa (PE)
Penjajah
Belanda membawa kambing yang berasal dari India yang dikenal dengan Jamunapari.
Jamunapari ini dibawa penjajah Belanda ke Indonesia untuk memenuhi kebutuhan
susu untuk pemerintah kolonial Belanda, Tetapi di Indonesia Jamunapari
dikenalkan dengan Nama kambing Etawa, Karena kambing Etawa tadi jumlahnya
terbatas maka kambing Etawa tersebut disilangkan dengan kambing asli Indonesia
yaitu kambing kacang yang kemudian hasil persilangan tersebut dikenal dengan
kambing Peranakan Etawa (PE) ( Murtidjo,1993).
Kambing banyak dipelihara oleh
penduduk pedesaan Indonesia (Mulyono, 2003), Karena pemeliharaannya lebih mudah
dilakukan dibandingkan dengan ternak ruminansia besar. Kambing cepat berkembang
biak dan pertumbuhan anaknya juga tergolong cepat.
Kambing Peranakan Etawa adalah
ternak dwi guna, yaitu sebagai penghasil susu dan sebagai penghasil daging
(Williamson dan Payne, 1993). Kambing PE adalah bangsa kambing yang paling
populer dan dipelihara secara luas di India dan Asia Tenggara (Devendra dan
Burns, 1994). Ciri-ciri kambing PE adalah warna bulu belang hitam putih atau
merah dan coklat putih; hidung melengkung; rahang bawah lebih menonjol; baik
jantan maupun betina memiliki tanduk; telinga panjang terkulai; Memiliki kaki
dan bulu yang panjang (Sosroamidjoyo, 1984). Kambing PE telah beradaptasi
dengan baik terhadap kondisi dan habitat Indonesia (Mulyono, 2003).
Kambing merupakan hewan domestikasi tertua yang telah
bersosialisasi dengan manusia lebih dari 1000 tahun. Kambing tergolong pemamah
biak, berkuku genap dan memiliki sepasang tanduk yang melengkung. Kambing
merupakan hewan pegunungan hidup dilereng-lereng yang curam yang meiliki sifat
adaptasi yang cukup baik terhadap perubahan musim (Sarwono,2009). Mulyono dan
Sarwono (2010) menyatakan kambing Peranakan Etawa (PE) merupakan hasil
persilangan antara kambing Etawa dari India dengan kambing kacang yang penampilannya
mirip Etawa tapi lebih kecil. Kambing Peranakan Etawa (PE) memiliki dua
kegunaan, Yaitu sebagai penghasil susu (perah) dan kambing potong.
Sodiq dan Abidin (2008) menyatakan bahwa kambing Etawa berasal
dari wilayah Jamnapari (India), sehingga kambing ini disebut juga sebagai
kambing Jamnapari. Kambing Etawa merupakan kambing yang paling populer di Asia
Tenggara. Di negara asalnya kambing Etawa termasuk kambing tipe dwiguna, yaitu
sebagai penghasil susu dan daging. Kambing Etawa memiliki postur tubuh besar,
telinga panjang menggantung, bentuk muka cembung serta bulu dibagian paha
belakang sangat panjang. Subandriyo (1995) menyatakan bahwa ciri khas kambing
Peranakan Etawa (PE) antara lain bentuk muka cembung melengkung dan dagu
berjanggut, telinga panjang, lembek menggantung, dan ujungnya agak berlipat,
ujung tanduk agak melengkung, tubuh tinggi, pipih, bentuk garis punggung yang
mengombak ke belakang, bulu tumbuh panjang di bagian leher, pundak, punggung
dan paha, bulu panjang dan tebal. Warna bulu ada yang tunggal putih, hitam dan
coklat, tetapi jarang ditemukan. Kebanyakan terdiri dari dua atau tiga pola
warna, yaitu belang hitam, belang coklat dan putih betotol hitam.
BAB III
METODE
PELAKSANAAN
3.1 Waktu dan tempat pelaksanaan
Praktek Kerja Lapangan (PKL)
dilaksanakan Mulai tanggal 22 September 2016 sampai 22 Oktober 2016. Lokasi
kegiatan PKL di Balai Besar Inseminasi Buatan Singosari-Malang.
3.2 Variabel yang Diamati
Variabel yang diamati adalah Sebagai
Berikut :
1. Pengamatan
Lokasi kandang Kambing Pejantan PE di BBIB Singosari,
2. Tata
Cara Pemeliharaan Kambing Pejantan PE Di BBIB singosari yang meliputi:
a. Perkandangan,
b. Pemberian
pakan yang baik, Dan
c. Pencegahan
Penyakit.
3.3 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang
digunakan dalam kegiatan PKL ini adalah partisipasi aktif dalam proses
pemeliharaan dan observasi secara langsung yaitu dengan pengisian daftar hadir
masuk dan pulang serta mengamati proses tata laksana pemeliharaan di peternakan
kambing pejantan (PE) di BBIB singosari-Malang serta hasil teori dan wawancara
di lapangan.
BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Profil Umum BBIB singosari
4.1.1 Deskripsi Lokasi dan instansi
BBIB singosari terletak di desa
toyomarto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, 20 km sebelah utara kota
malang, Dengan ketinggian 800 – 1200 m di atas permukaan laut. Rataan suhu udara berkisar antara 16 – 22áµ’C, dengan
kelembaban berkisar antara 70 – 90% dan curah hujan 2.233 mm/ Tahun. BBIB
Singosari memiliki areal seluas 67,72 hektar dilengkapi dengan bangunan
Perkantoran, Asrama, Gedung belajar, Audotorium, Guest house, Kandang sapi dan
kambing, Laboratorium, Arena penampungan, Kebun rumput, Gudang, Garasi,
Perumahan dinas, Kereta biosecurity dan Alat mesin.
Balai besar inseminasi buatan (BBIB)
singosari merpakan unit pelaksana teknis (UPT) direktorat jendral peternakan
dan kesehatan hewan. Sesuai dengan peraturan menteri pertanian No.40/
permentan/ OT. 140/ 2012, Tanggal 5 juni 2012, BBIB singosari merupakan unit
pelaksana teknis eselon II B yang bertanggung jawab kepada direktur jendral
peternakan dan kesehatan hewan. Balai besar inseminasi buatan (BBIB) singosari
selama lebih dari dua puluh delapan tahun telah memproduksi semen beku dari
sembilan bangsa sapi (Limousin, Simental, Aberdeen Angus, Brahman, Ongole,
Madura, bali dan Friesien Holstein) dan dua bangsa kambing (Peranakan ettawa,
dan Boer dan Borawa).
Motto
dari BBIB Singosari :
“Setetes Mani Sejuta Harapan”
Gambar
1. Gambar Motto BBIB Singosari
BBIB
Singosari memiliki motto yang telah terregistrasi di Departemen hukum dan Hak
Asasi Manusia No. IDM000138723. Dengan Motto tersebut BBIB singosari senantiasa
memproduksi semen beku berkualitas sesuai dengan SNI 01-4869, 1-2008, dengan
menggunakan bahan pengencer yang berkualitas dan mesin-mesin modern. Sebagai
jaminan terhadap kualitas semen beku produksi BBIB singosari, Laboratorium Uji
mutu semen BBIB singosari telah terakreditas yang kedua kali pada tanggal 19
Februari 2010, Menerapkan dan memelihara sistem mutu sesuai ISO/IEC 17025:2005.
BBIB
singosari memiliki komitmen yang kuat untuk memajukan dunia peternakan di
indonesia. Hal ini diwujudkan dalam bentuk program progeny testing / Uji Zuriat yang telah dilaksanakan bekerjasama
dengan pemerintah jepang dalam proyek ATA-233 (The Strengthening of Singosari AI centre). Program ini telah
menghasilkan FH Elite Indonesia yang memiliki mutu genetik yang tinggi dan
mampu beradaptasi dengan baik terhadap iklim Tropis.
4.1.2
Sejarah Perkembangan BBIB Singosari
Laboratorium
semen beku pertama di indonesia didirikan di wonocolo Surabaya pada tahun 1976
oleh pemerintah daerah jawa timur yang bekerjasamadengan pemerintah Belgia (AB
05 dan ATA 73). Laboratorium tersebut diambil alih dan ditetapkan sebagai
cabang balai inseminasi buatan wonocolo oleh pemerintah pusat pada tahun 1982
dengan surat keputusan menteri pertanian No. 314/ Kpts/ Org/ 1978, Tanggal 25
Mei 1978. Tahun 1982 Laboratorium tersebut pindah ke singosari Malang dan pada
tahun 1984 di tetapkan sebagai cabang balai inseminasi buatan singosari oleh
Direktur Jendral Peternakan. Tahun 1986, BIB singosari bekerjasama dengan
pemerintah jepang dalam proyek pengembangan BIB singosari (the Strengthening of Singosari AI Centre-ATA 233) melalui Japan International Cooperation Agency
(JICA) sejak saat itu dikembangkan program uji Zuriat (Progeny Test). Status
BIB kemudian meningkat menjadi balai inseminasi buatan singosari pada tanggal
29 Februari tahun 1988 dengan surat keputusan menteri pertanian No. 193/ Kpts/
OT. 212/2/1998, dan pada tahun 1996 ditetapkan menjadi pusat pelatihan
Inseminasi Buatan Singosari pada tahun 2004. BBIB Singosari di tetapkan menjadi
PK-BLU pada tahun 2010 berdasarkan surat keputusan menteri keuangan No: 54/
KMK/.05/2010. Pada tahun 2012 perubahan struktur organisasi sesuai dengan
peraturan menteri pertanian No: 40/Permentan/OT.140/6/2012 tanggal 5 juni 2012.
4.1.3 Tugas
Dan Fungsi BBIB Singosari
Sesuai dengan peraturan Menteri
pertanian No. 40/ Permentan / OT.140/6/2012, Tanggal 5 juni 2012, BBIB Singosari
memiliki tugas pokok Produksi, Distribusi, Pemasaran dan pemantauan mutu semen
ternak unggul serta pengembangan inseminasi buatan. BBIB Singosari memiliki
fungsi Sebagai Berikut :
1. Program,
Evaluasi dan laporan kegiatan produksi, {Pemasarandan pemantauan mutu semen
ternak unggul, Serta pengembangan inseminasi Buatan.
2. Pelaksanaan
produksi dan pemberian saran teknis produksi semen ternak uggul.
3. Pelaksanaan
pengujian dan pemantauan mutu semen ternak unggul.
4. Pelaksanaan
pengembangan inseminasi buatan dan metode produksi.
5. Pelekasanaan
pemeliharaan pejantan ternak unggul.
6. Pelaksanaan
perawatan kesehatan pejantan ternak unggul.
7. Pelaksanaan
pengawasan dan penyediaan pakan pejantan ternak unggul.
8. Pelaksanaan
pengujian keturunan dan peningkatan mutu genetik pejantan ternak unggul.
9. Pelaksanaan
kerja sama dan optimalisasi pemanfaatan sumber daya.
10. Pelaksanaan
penyimpanan, pendistribusian dan pemasaran hasil produksi.
11. Pengelolaan
prasarana dan sarana produksi.
12. Pengelolaan
informasi dan promosi hasil produksi.
13. Pengelolaan
urusan tata usaha, rumah tangga dan perlengkapan.
4.1.4 Visi
Dan Misi
Didalam melakukan tugas pokok dan
fungsi BBIB Singosari mempunyai Visi dan Misi sebagai berikut :
Visi : Komersialisasi potensi singosari menuju pasar
internasional
Misi :
1. Meningkatkan
produksi semen beku, diverifikasi produk yang berkualitas melalui pengujian
yang akurat dan teknologi mutahir.
2. Melaksanakan
replacement pejantan dan produksi bibit unggul secara berkeseimbangan yang
ditunjang oleh optimalisasi pakan ternak dan biosecurity.
3. Meningkatkan
profesionlisme SDM melalui pendidikan dan pelatihan serta promosi dan
penempatan berdasarkan kompotensi guna tercapainya kesejahteraaan.
4. Mengoptimalkan
fasilitas serta meningkatkan nilai tambah asset fisik dan intelektual dan
pengembangan hak paten-merk.
5. Meningkatkan
kualitas pelayanan, pemasaran dan penjualan produk, monitoring dan evaluasi.
6. Meningkatkan
tertib administrasi dan keuangan, efisien dan akuntabilitas, koordinasi dan
komunikasi serta pelayanan guna mewujudkan manajemen bisnis modern.
4.1.5
Struktur Organisasi BBIB Singosari
Struktur organisasi BBIB Singosari
terdiri dari kepala balai, yang membawahi satu bagian umum, kepala bidang
pelayanan teknis, serta kepala bidang pemasaran dan informasi, serta kelompok
jabatan fungsional. Kepala bagian umum membawahi kepala sub bagian program dan
ke uangan, kepala sub bagian kepegawaian dan tata usaha, serta kepala sub
bagian rumah tangga dan perlengkapan. Kepala bidang pelayanan teknis membawahi kepala
seksi pemeliharaan dan peningkatan mutu genetik ternak, serta kepala seksi
produksi semen dan pengembangan IB. Kepala bidang pemasaran dan informasi
membawahi kepala seksi informasi dan pemantauan mutu semen, serta kepala seksi
pemasaran dan kerja sama.
Berikut
adalah gambar bagan struktur organisasi di BBIB singosari :
|
KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL
|
|
KEPALA
|
|
SUB BAGIAN PROGRAM
DAN KEUANGAN
|
|
BIDANG
PELAYANAN TEKNIK
|
|
BIDANG PEMASARAN
DAN INFORMASI
|
|
SEKSI PEMELIHARAAN
DAN PENINGKATAN MUTU GENETIK TERNAK
|
|
SEKSI PRODUKSI
SEMEN DAN PENGEMBANGAN INSEMINASI BUATAN
|
|
SEKSI PEMASARAN DAN
KERJA SAMA
|
|
SEKSI INFORMASI DAN
PEMANTAUAN MUTU SEMEN
|
|
BAGIAN UMUM
|
|
SUB BAGIAN
KEPEGAWAIAN DAN TATA USAHA
|
|
SUB BAGIAN RUMAH
TANGGA DAN PERLENGKAPAN
|
Gambar 2. Struktur Organisasi BBIB Singosari
4.2 Pembahasan
4.2.1
Pengamatan Lokasi Kandang kambing Pejantan PE Di BBIB Singosari
BBIB singosari
terletak di desa toyomarto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, 20 km sebelah
utara kota malang, Dengan ketinggian 800 – 1200 m di atas permukaan laut.
Rataan suhu udara berkisar antara 16 –
22áµ’C, dengan kelembaban berkisar antara 70 – 90% dan curah hujan 2.233 mm/
Tahun. Ditinjau dari ketinggian, letak, temperatur dan kelembaban, serta curah
hujannya, Lokasi ini sangat cocok untuk pemeliharaan ternak terutama ternak
ruminansia dalam hal ini kambing. Kambing
mudah beradaptasi dengan berbagai lingkungan, bahkan di lingkungan-lingkungan
yang paling buruk pun, Hewan ini masih bisa bertahan hidup, Sehingga mudah di
pelihara dan dikembanganbiakkan di dataran rendah maupun di dataran tinggi
(Anonimus, 1994).
Sesuai
dengan pendapat Mulyono (1999), Yaitu dalam area perkandangan harus memenuhi
syarat teknis yaitu kandang dan aspek lainnya
yaitu sumber air, Peralatan pemeliharaan, Letak lokasi terhadap perumahan dan
jalan, Ketersediaan kendraan, tempat pembuangan sampah dan penampungannya.
Setiap hendak melakukan suatu usaha peternakan hendaklah dipikirkan terlebih
dahulu berbagai hal yang mendukung keberhasilan usaha peternakan.
BBIB
singosari memiliki satu unit kandang kambing yang di lengkapi tempat
penampungan semen, tempat pembuangan kotoran, dan tempat penyimpanan pakan. Lokasi
kandang kambing BBIB singosari terletak jauh dari lokasi pemukiman penduduk
sehingga polusi udara yang di hasilkan dari ternak kambing tidak menyebabkan
polusi udara. Dan lokasi kandang kambing BBIB singosari terletak jauh dari
kandang sapi.
4.2.2
Pemilihan Jenis Ternak Pejantan
1. Kambing pejan peranakan
etawa (PE)
Gambar 3.
Kambing Pejantan PE
BBIB Singosari
selalu menjaga kemurnian dan keunggulan bibit, sebagai penghasil semen beku,
dengan cara pemeliharaan yang baik dan dengan pemilihan bibit yang berkualitas
baik pula. Ciri-ciri kambing PE yaitu muka cembung, warna bulu belang hitam dan
kadang-kadang putih telinga panjang berkisar 18-30 cm, Bobot badan jantan
kurang lebih 80-100 kg, Tinggi pundak berkisar 76-90 cm. Kambing jantan rambut
bagian atas, pundak dan bawah leher lebih tebal dan agak panjang, Warna rambut
bervariasi dari coklat muda sampai hitam (Anonim, 2009).
Mulyono
(1999) menambahkan bahwa ciri-ciri kambing pejantan yang baik adalah tidak
terserang penyakit, Tidak cacat tubuh, Umur 1,5 – 2 tahun, Alat kelamin dapat
ereksi, mempunyai ukuran tubuh yang besar sesuai umur, nafsu makan besar,
mempunyai buah zakar yang sama besar dan simetris. Ukuran tubuh normal, tubuh
panjang dan besar dada dalam dan lebar, kaki kokoh dan otot-otot kuat.
Di
BBIB Singosari Memelihara ternak kambing pejantan peranakan Etawa sebanyak 9
ekor dengan berat badan 80-100 kg bentuk badan tinggi besar dan tegak, tinggi
badan ± 90 cm. Dan kondisi kesehatan ternak pejantan di BBIB Singosari sangat
baik.
4.2.3
Perkandangan
Kandang adalah hal terpenting dalam usaha
peternakan. Sistem perkandangan di BBIB Singosari Malang sudah dilakukan secara
tepat sehingga ternak merasa nyaman untuk menjalankan segala aktivitasnya.
Hasil
wawancara dan materi yang di dapat selama mengikuti kegiatan PKL di kandang
kambing BBIB Singosari menurut Bapak. Shalaludin salah satu pegawai BBIB
singosari Bahwa untuk membuat suatu kandang peternakan harus memperhatiakan hal
sebagai berikut : Kandang yang akan dibuat harus bisa tahan dalam jangka waktu
yang lama, Bahan – bahan yang akan di gunakan di usahakan Murah dan mudah di
dapatkan.
Gambar 4. Di lihat dari tipe atap dan tipe lantai
Ukuran
kandang kambing pejantan PE di BBIB Singosari menurut Bpak. Iwan memiliki
ukuran 6 x 2,5 meter untuk tiap satu ekor ternak. Tipe kandang kambing pejantan
PE di lihat dari atapnya adalah tipe Semi monitor dan dilihat dari lantai tipe
semi panggung dan semi pedlok . Sistem perkandangan ini sangat cocok untuk
kambing pejantan karena ternak tentunya merasa nyaman saat berada di dalam
kandang tersebut.
Gambar 5. Gambar tipe kandang semi pedok
(tempat umbaran)
Kandang disediakan agar mempermudah
dalam pengelolaan, memudahkan pengawasan, memudahkan dalam pemberian pakan dan
pengumpulan kotoran, pelindung dari sinar matahari, pelindung dari hewan liar
pemangsa, Dan pencegah timbulnya suatu bibit penyakit (Tomaszewska, 1993).
Mulyono (1999), Berpendapat bahwa
palungan letaknya menempel pada sisi luar kandang dengan ukuran 25 x 25 x 50 cm
yang panjangnnya disesuaikan dengan panjang kandang, dan celah kandang untuk
mengeluarkan kepala kambing pada saat makan adalah 30.
Tempat pakan di BBIB singosari
dibuat letaknya menempel langsung pada sisi luar kandang yang digabung langsung
dengan tempat minum dengan ukuran yang di sesuaikan dengan kebutuhan dan panjang
kandang.
Gambar 6. Gambar tempat pakan dan air minum
4.2.4
Pemberian Pakan dan Minum
Pakan yang diberikan di BBIB
singosari adalah pakan hijauan, konsentrat, dan kacang – kacangan. Pakan
adalah suatu bahan yang dikonsumsi ternak yang didalamnya mengandung energi dan
zat-zat gizi (atau keduanya). Pakan adalah bahan yang dimakan dan dicerna oleh
seekor hewan yang mampu menyajikan unsur hara atau nutrien yang penting untuk
perawatan tubuh, pertumbuhan, penggemukan, reproduksi dan produksi (Hartadi et
al.,1986). Menurut
Setiawan dan Arsa (2005), secara umum pakan ternak kambing sebenarnya hanya
terdiri dari tiga jenis, yaitu pakan kasar, pakan penguat dan pakan pengganti.
Pakan kasar merupakan bahan pakan berkadar serat kasar tinggi. Bahan ini berupa
pakan hijauan yang terdiri dari rumput dan dedaunan. Pakan penguat merupakan
bahan pakan berkadar serat rendah dan mudah dicerna seperti konsentrat, ampas
tahu dan bubur singkong. Sementara pakan pengganti merupakan pakan hijauan yang
sudah difermentasi.
Pemberian
pakan kambing pejantan di BBIB singosari di berikan pada pagi dan sore hari
yakni pada pagi hari di berikan pada pukul 06.30 dan sore hari di berikan pada
pukul 14.00 dengan urutan sebagai berikut : pada pagi hari diberikan Hijauan,
Konsentrat. Dan pada sore hari di berikan Kacang – kacangan, Konsentrat,
Hijauan. Dan kebutuhan pakan ternak per ekor 8 kg per hari. Pemberian minum
untuk ternak sudah disediakan di tempat minum yang telah di buat bersamaan
tempat pakan sehingga ternak bisa langsung minum setelah makan. Jenis – jenis
pakan hijauan yang sering diberikan pada ternak di BBIB singosari berupa : Rumput
odot, Rumput gajah mini, star grest, kaliandra, lamtoro, legum, indicovera,
gamal.
Gambar 7. Pemberian pakan hijauan pada
ternak kambing
1. Rumput
Gajah Odot
Gambar 8. Rumput gajah Odot
2. Rumput
kaliandra
Gambar 9. Jenis
rumput kaliandra
Kaliandra
merupakansalah satu leguminosa pohon atau semak yang memiliki beberapa spesies,
satu di antaranya yang paling banyak dikenal adalah jenis kaliandra bunga merah
(Calliandra calothyrsus). Kaliandra
termasuk dalam famili Leguminoseae dan
sub famili Mimosaceae (Palmer et al 1994). Tanaman yang bentuk perdu
(semak) ini memiliki batang berkayu, Bertajuk dan dapat mencapai tinggi 8 meter.
Tanaman kaliandra di balai besar inseminasi buatan (BBIB) Singosari khusus
untuk pakan hijauan kambing. Waktu pemberian pada kambing diberikan secara
campur dengan hijauan lain tapi bisa juga tidak. Hal ini bertujuan agar
kandungan yang berada di dalam masing-masing tanaman dapat saling melengkapi, Sehingga
kambing akan tercukupi kebutuhan nutriennya.
3. Gamal
Gambar 10. Jenis rumput Gamal
Gamal berbentuk pohon, semak, daun
majemuk bersisip ganjil, bunga berbentuk malai, lukar dari ketiak daun bunga berwarna
merah jambu, buah polong, akar cukup dalam. Dapat diperbanyak dengan
menggunakan stek ataupun biji. Gamal ditanam sebagai penahan angin, pakan
ternak dan pagar hidup. Tanaman yang di perbanyak dengan stek sudah dapat
dipanen pada usia dibawah satu tahun. Tanaman gamal di BBIB Singosari digunakan
untuk pakan ternak kambing.
4. Stargrasst
Gambar 11. Jenis rumput stargrass
African
stargrass dapat tumbuh dengan baik didaerah dengan curah hujan 500 -1200 mm
dan tidak dapat tumbuh pada tanah yang tergenang dan kekurangan nitrogen. African Stargrass dapat di berproduksi
sebanyak 47,0 – 55,6 ton/ha/tahun dengan pemberian 150 atau 300 kg nitrogen /ha/tahun
dan interval pemanenan selama 21 hari. Kandungan nutrien African Stargrass adalah 32% bahan kering; 3,4% abu; 0,6% lemak
kasar; 9,6% serat kasar; 15,4% BETN; dan 2,8% protein kasar (hardtadi et al.,
1986).
4.2.5
Perawatan Ternak
Perawatan ternak
sangat di perlukan agar ternak tetap sehat sehingga ternak dapat dengan berproduksi
secara maksimal. Perawatan ternak di BBIB Singosari dilakukan secara rutin,
antara lain : pembersihan kandang, pemotongan kuku, memandikan ternak, sanitasi
kandang dan sekitarnya, serta pencegahan penyakit.
Kandang
dibersihkan setiap hari pukul 06.30 WIB sampai selesai. Pembersihan yang
dilakukan antara lain menyapu lantai kandang, lantai dasar kandang (kolong
kandang), palungan (tempat pakan), tempat minum, selokan, dan lingkungan
sekitar kandang. Peralatan yang digunakan adalah sapu lidi, sekop, garu (sekop
garpu), dan Argo dorong. Sisa pakan pada galungan dibersihkan dan disapu
sehingga hijauan yang dimakan kambing selalu segar dan baru. Hal ini sesuai
dengan pendapat mulyono (1999), bahwa pembersihan kandang dilakukan secara
rutin, terutama pembersihan kotoran lantai kandang dan kolong kandang, karena
kotoran yang menumpuk akan memudahkan kuman penyakit, parasit, dan jamur
berkembang biak.
Gambar 12. Membersihkan faces
Perawatan
ternak yang lain adalah memandikan ternak. Di BBIB Singosari ternak dimandikan
dua kali dalam sebulan secara teratur dan bulu kambing di tata secara baik
dengan cara di gunting memandikan ternak dilakukan secara bergantian.
Memandikan ternak dilakukan pada siang hari agar ternak tidak mengalami
kembung. Memandikan ternak ini adalah upaya untuk mencegah timbulnya penyakit
kulit. Menurut Mulyono (1999), khusus untuk pejantan, memandikan ternak dan
memberi kesempatan untuk bergerat setelah mandi dapat meningkatakn kekuatan dan
produktivitas sperma yang di hasilkan.
Di
BBIB Singosari pemotongan kuku dilakukan apabila kuku ternak kambing sudah
tumbuh dan mengganggu aktivitas kambing tersebut untuk waktu pemotongan
disesuaikan dengan kondisi ternak apabilakukunya sudah tumbuh dan panjang maka
perlu di potong. menurut saad (1991), kuku dapat tumbuh memanjang dan dapat
berakibat :
1.
Menggangu gerak kambing saat berjalan.
2.
Kuku yang terlalu panjang menyebabkan
hewan ternak mudah tergelincir.
3.
Nafsu makan menurun, karena ternak
kesulitan untuk berjalan dan berdiri untuk mengambil makanan dan minuman,
kecuali terpaksa.
4.
Dibagian bawah kuku menjadi terdapat
rongga yang biasanya dipenuhi kotoran sehingga memungkinkan pertumbuhan
penyakit akibatnya kuku menjadi busuk (bau).
Pemotongan kuku
dilakukan dengan menggunakan pisau tajam dan gunting, bagian yang di potong
adalah bagian kuku yang tidak bersyraf dan berpembuluh darah. Apabila pada saat
pemotongan kuku terdapat luka maka luka tersebut harus segera dibersihkan dan
diolesi dengan obat septik.
4.2.6
Penanggulangan Dan pencegahan penyakit
Kondisi kesehatan
ternak pejantan sangat penting untuk menunjang kualitas semen yang di hasilkan
pada saat penampungan. Pengelolaan kesehatan yang baik adalah dengan cara pencegahan
penyakit dan pengobatan.
Pencegahan pertama yang
dilakukan di BBIB Singosari yakni dengan cara dilakukan karantina terhadap
ternak pejantan yang akan masuk. Selama di karantina dilakukan pemeriksaan
kesehatan, Vaksinasi dan penyemprotan anti ekstoparasit. Tindakan karantina ini
dilakukan untuk mencegah wabah penyakit menular kepada ternak pejantan lainnya.
Pencegahan penyakit
yang di lakukan di BBIB Singosari adalah dengan cara sanitasi kandang, sehingga
dapat mencegah timbul dan berkembangnya penyakit. Pembersihan kandang dilakukan
setiap hari dengan membersihkan kandang utama, pedok, tempat pembuangan
kotoran, dan memotong rumput sekitar kandang.
Usaha sanitasi kandang
adalah upaya untuk mencegah bibit penyakit (Agent) berkembang biak di kandang.
Selain pembersihan kandang dan sekitar lingkungan kandang yang dilaksanakan
setiap hari secara rutin, setiap sebulan empat kali dilakukan penyemprotan
kandang dengan desinfektan.
Gambar 13. Penyemprotan Desinfektan
Sedangkan penyakit yang
biasa menyerang ternak kambing adalah kudis, cacingan dan kembung. Penyakit
kudis biasaanya menyerang ternak yang
jarang dimandikan atau keadaan kandang yang sangat kotor. Penyakit kulit ini
sangat beragam tergantung jenis parasit yang menyerangnya, salah satunya adalah
miasis atau kudis berulat. Menurut Saad (1991), miasis merupakan penyakit kulit
akibat serangan larva sejenis lalat dibagian bawah kulit ternak, menyerang
bagian kulit yang terluka. Penyebab penyakit ini adalah larva lalat Chysomyia Bezziana yang bersarang
dibawah kulit yang terluka, menghisap darah dan menyebabkan borok. Penyakit ini
sering terjadi di daerah yang beriklim tropik, berawal dari luka yang tidak
dirawat.
Di BBIB Singosari Malang, ternak kambing yang terkena kudis
sedikit atau hampir tidak ada. Hal ini karena perawatan ternak kambing pejantan
PE di BBIB Singosari Malang sangat baik. Jika terdapat kambing yang terkena
kudis, maka tindakan pertama yang dilakukan adalah dengan memisahkan antara
kambing yang sakit dengan kambing yang sehat agar tidak tertular.
Perawatan penyakit ini
yaitu dengan mencukur bulu rambut sekitar luka, kemudian larva dibuang dari
bagian luka sebelum pengobatan dilakukan. Larva ini dapat dimusanakan dengan
menggunakan larutan hidrogen peroksida (Saad, 1991). Di BBIB Singosari jika
terdapat ternak yang luka, luka tersebut disemprot dengan Gusanex untuk
mencegah lalat berkembang biak.
Penyakit lain yang
sering menyerang kambing adalah kembung dan cacing. Di BBIB Singosari, Penyakit
kembung dan cacing ini dicegah dengan jalan pemberian pakan hijauan yang sudah
dilayukan terlebih dahulu, dan membersihkan tempat pakan dan feces.
Penyakit kembung
disebabkan karena adanya gangguan pencernaan. Gangguan ini disebabkan karena
pertukaran pakan atau salah makan, akibatnya rumen menjadi tegang da berisi gas
bebas (saad, 1991) pengobatannya yaitu dengan kaki kambing bagian depan di
angkat keatas sampai gas dalam rumen keluar. Di BBIB Singosari pengobatan
penyakit kembung di tusuk pada bagian perut dengan alat khusus.
Selain kembung, penyakit
yang biasanya terjadi pada ternak di BBIB Singosari yakni penyakit Diare,
penyakit ini diakibatkan kelebihan makanan konsentrat dan pemberian pakan yang
kurang teratur. Pencegahan yang dilakukan di BBIB singosari yakni memberikan
pakan secara teratur.
Pada saat pelaksanaan
praktek kerja lapangan, di BBIB singosari Malang hampir tidak ada atau bahkan
sama sekali tidak ada ternak kambing yang terjangkit penyakit-penyakit tersebut
di atas. Hal ini dikarenakan usaha sanitasi yang dilakukan sangat baik.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Kambing
pejantan perankan etawa yang di pelihara di BBIB singosari – Malang berjumlah 9
ekor, pemberian pakan meliputi Hijauan 8 Kg/ekor/hari dan pemberian konsentrat
½ kg/ hari/ekor dan waktu pemberian pakan dua kali dalam sehari yakni pada pagi
hari dan sore hari, Pada pagi hari yakni pada pukul 06.30 dan pada sore hari
pada pukul 14.00.
Usaha pencegahan penyakit yang
dilakukan yaitu dengan membersihkan kandang dan lingkungan sekitarnya,
memandikan ternak,pemotongan kuku jika sudah mengganggu aktivitas ternak itu
sendiri, penyemprotan kandang dengan desinfektan.
Untuk mendapatkan hasil yang baik
dalam usaha peternakan maka di perlukan tata cara pemeliharaan yang baik pula.
Karena hal ini sangat menentukan keberhasilan suatu usaha peternakan khususnya
peternakan kambing.
Berdasarkan hasil pegamatan secara
langsung dengan ikut serta dalam pelaksanaan kegiatan pemeliharaan kambing
pejantan Peranakan etawa (PE) di BBIB singosari Malang yang meliputi
pemeliharaan kandang, pemberian pakan dan air minum, dan perawatan kesehatan
ternak dilakukan dengan sangat baik.
5.2 Saran
Ada
Beberapa hal yaang perlu diperhatikan dalam tata cara pemeliharaan kambing
pejantan peranakan ettawa (PE) tersebut adalah:
1.
Sesuai hasil pengamatan dan hasil ikut
serta dalam proses tata cara pemeliharaan di BBIB singosari disarankan agar
kandang yang telah rusak di perbaiki.
2.
Diharapkan bagi masyarakat peternak
dapat memahami mengenai tata cara pemeliharaan kambing pejantan PE dengan baik
agar hasil produksi kambing Peranakan Ettawa (PE) di indonesia semakin
meningkat.
3.
Bagi masyarakat yang ingin mendapatkan
bibit unggul kambing pejantan peranakan ettawa dapat diperoleh di BBIB
Singosari Malang yaitu berupa semen beku dalam straw dengan program IB (Inseminasi
Buatan).
4.
Saran penulis kedepan kepada jurusan
peternakan agar Disaat mahasiswa melakukan presentase di Lokasi PKL jangan
meninggalkan presentase yang sedang berjalan karena harapan pembimbing lapangan
adalah kehadiran para dosen yang akan menjeput mahasiswanya, hal ini bertujuan
agar bukan hanya mahasiswa yang mendapat kesan yang baik tapi dosen dan
khususnya jurusan peternakan kedepannya juga mendapat kesan yang baik.
DAFTAR
PUSTAKA
Anonimus. 1994 tehnik pengembangan peternakan, seri
: pedoman beternak kambing. Direktorat Jendral Peternakan Jakarta.
Mulyono, 1999. Teknik pembibitan kambing dan domab.
Penebar semangat. Jakarta
Sarwono, B, 1999. Beternak kambing unggul. Penebar
Swadaya. Jakarta
Mulyono, S. dan B. Sarwono, 2010. Penggemukan
Kambing Potong. Penebar Swadaya, Jakarta.
Sodiq, Akhmad dan zainal abidin. 2008.
Meningkatkan produksi susu kambing peranakan etawa. Agromedia pustaka utama.
Jakarta.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar