Kamis, 05 Juli 2018

laporan praktek kerja lapangan tentang tata cara pemeliharaan kambing pejantan etawa di BBIB singosari-malang

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

TATA CARA PEMELIHARAAN
KAMBING PEJANTAN PERANAKAN ETAWA (PE)
DI BBIB SINGOSARI

OLEH :
ARLAN KATILI





PROGRAM STUDI PETERNAKAN
JURUSAN PETERNAKAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO

2016





LEMBAR PENGESAHAN

TATA LAKSANA PEMELIHARAAN
KAMBING PEJANTAN PERANAKAN ETAWA (PE)
DI BALAI BESAR INSEMINASI BUATAN – SINGOSARI
(BBIB-SINGOSARI)




Oleh :

ARLAN KATILI








Telah Memenuhi Syarat Untuk Diterima
Sebagai Laporan Akhir PKL Oleh Pembimbing
Disetujui Tanggal : 31 November 2016

MENGETAHUI


Dosen Pembimbing                                                     Dosen Penguji




Suparmin Fathan, S.Pt, M.Si                          Dr. Muhammad Sayuti M, S.Pt, M.Si
NIP. 19710403 200212 1 001                        NIP. 19671231 200204 1 001




Ketua Jurusan




Ir. Nibras Karnain Laya, MP
NIP. 19661206 200112 2 001



KATA PENGANTAR
            Puji syukur senantiasa penyusun panjatkan kepada Allah AWT, atas segala rahmat dan hidayah-nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan laporan praktek kerja lapangan dengan judul TATA LAKSANA PEMELIHARAAN KAMBING PEJANTAN PERANAKAN ETAWA (PE) “.
            Penyusun menyadari penyusunan laporan ini takkan trewujud tanpa bantuan, bimbingan serta dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penyusun mengucapkan terima kasih yang sebesar – besar besarnya untuk semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan laporan ini :
1.      Bapak Dr. Mohamad Ikbal Bahua, Sp. Msi Selaku Dekan Fakultas Pertanian Universitas Negeri Gorontalo.
2.      Ibu Ir.Nibras K. Laya, MP selaku Ketua Jurusan Fakultas Ilmu-Ilmu Pertanian di Universitas Negeri Gorontalo.
3.      Bapak Suparmin Fathan, S.Pt, M.Si Selaku pembimbing praktek kerja lapangan (PKL) di Universitas Negeri Gorontalo.
4.      Ibu Drh. Enniek Herwijanti, MP Selaku Pimpinan Balai Besar Inseminasi Buatan Singosari – Malang malang yang telah memberi ijin kepada penulis untuk melaksanakan praktek kerja lapangan (PKL) Di BBIB Singosari.
5.      Bapak Iwan Kurniawan Selaku Pembimbing Lapangan yang telah banyak memberi ilmu pengetahuan dan pengalaman selama di peternakan kambing pejantan PE BBIB Singosari
6.      Bapak dan ibu pegawai serta seluruh staf Balai Besar Inseminasi Buatan BBIB Singosari – Malang Atas perhatian dan ilmu yang diberikan selama PKL.
7.      Ayah, Ibu, Kakak, adik, Pacar serta keluarga yang selalu memberikan kasih sayang dukungan, nasehat, motivasi, serta doanya.
8.      Teman – Teman Praktek kerja lapangan (PKL) Universitas Negeri Gorontalo Di Balai Besar Inseminasi Buatan Singosari, Fajrin, Mustar, Roni, Wawan, Zul, Ike, Purniawati, Ana oktaviana, Delawati. Terima kasih atas bantuan dan kerja samanya selama (PKL).
Terimakasih juga buat UPT PT & HMT Singosari- Malang yang telah menyediakan tempat tinggal sehingga kami bisa menjalankan kegiatan PKL dan penyusunan laporan ini. Penyusun berharap laporan ini dapat bermanfaat bagi penyusun maupun pembaca untuk menjalankan tugas dimasa depan. Penyusun menyadari penulisan laporan ini jauh dari kesempurnaan oleh karena itu penyusun berharap ada kritikan dan saran yang membangun demi kesempurnaan laporan ini.

Singosari, 20 Oktober 2016

Penyusun




BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Ternak kambing khususnya kambing Peranakan Ettawa (PE), Merupakan salah satu sumber daya penghasil bahan makanan berupa daging dan susu. Seiring hal tersebut peternakan kambing memiliki peluang usaha yang cukup besar khususnya untuk kambing pejantan PE memiliki nilai ekonomi tinggi dibandingkan kambing betina walaupun kambing betina PE dapat menghasilkan susu tetapi harga jual kambing betina lebih murah dibandingkan kambing pejantan.
Oleh karena itu, Perlu tata cara pemeliharaan yang baik dalam menghadapi berbagai permasalahan dalam peternakan khususnya peternakan kambing pejantan PE, Baik dari segi pemilihan lokasi kandang, Konstruksi kandang. Pemeliharaan, Pemberian pakan, Dan pecegahan penyakit yang baik.
Dengan Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknolgi dibidang peternakan, Maka untuk menanggapi beberapa permasalahan dalam tata cara pemeliharaan kambing pejantan PE. Mahasiswa Peternakan Universitas Negeri Gorontalo di terjunkan langsung di BBIB singosari - Malang dalam rangka praktek kerja lapangan (PKL).

Balai besar inseminasi buatan singosari-Malang merupakan unit pelaksana teknis yang terletak di singosari-malang jawa timur. Balai besar inseminasi buatan singosari merupakan salah satu BBIB nasional yang diberi mandat oleh pemerintah pusat dalam penyediaan semen beku ternak unggul yang di distribusikan kedaerah-daerah yang akan dikembangkan populasi peternakannya. Dan Balai Besar Inseminasi Buatan Singosari-Malang memiliki komitmen yang kuat untuk memajukan dunia peternakan di indonesia.



1.2  Identifikasi dan rumusan Masalah
Peternakan kambing dalam perkembanganya tidaklah semudah yang kita bayangkan. Banyak hal yang menjadi masalah dalam perkembanganya, Khusunya Permasalahan yang sering terjadi di Peternak pada umumnya dan khususnya peternak di di Gorontalo adalah sebagai berikut :
1.      Pemeliharaan bersifat tradisional,
2.      Kurangnya pengalaman Dalam tata cara pemeliharaan kambing dengan baik,
3.      Terbatasnya Ketersediaan bahan pakan
4.      Keterbatasan fasilitas yang menimbulkan efek langsung pada proses produksi.
1.3  Tujuan Dan Manfaat Kegiatan
1.      Tujuan
a.       Meningkatkan pemahaman dan memperluas wawasan mahasiswa mengenai praktek yang sebenarnya di lapangan dibandingkan dengan ilmu yang ditekuni dalam perkuliahan.
b.      Memberikan wahana bagi mahsiswa untuk mengembangkan inspirasi untuk bahan penyusunan tugas akhir.
c.       Meningkatkan keterampilan mahasiswa sehingga dapat digunakan sebagai bekal untuk memasuki lapangan kerja.
2.      Manfaat Kegiatan
Berbekal dari pengalaman yang diperoleh dari Praktek Kerja Lapangan (PKL), Mahasiswa dapat mengetahui masalah yang timbul dan solusi yang diperlukan dalam proses tatalaksana pemeliharaan ternak serta lebih siap dalam menghadapi dunia kerja. Selain itu, Mahasiswa memiliki pengetahuan dan pengalaman yang berharga dalam Tatalaksana Pemeliharaan kambing pejantan (PE) yang baik Di BBIB Singosari, Meliputi : Pakan, Kandang, Dan Pencegahan Penyakit.


BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1  Kambing Peranakan Etawa (PE)
Penjajah Belanda membawa kambing yang berasal dari India yang dikenal dengan Jamunapari. Jamunapari ini dibawa penjajah Belanda ke Indonesia untuk memenuhi kebutuhan susu untuk pemerintah kolonial Belanda, Tetapi di Indonesia Jamunapari dikenalkan dengan Nama kambing Etawa, Karena kambing Etawa tadi jumlahnya terbatas maka kambing Etawa tersebut disilangkan dengan kambing asli Indonesia yaitu kambing kacang yang kemudian hasil persilangan tersebut dikenal dengan kambing Peranakan Etawa (PE) ( Murtidjo,1993).
Kambing banyak dipelihara oleh penduduk pedesaan Indonesia (Mulyono, 2003), Karena pemeliharaannya lebih mudah dilakukan dibandingkan dengan ternak ruminansia besar. Kambing cepat berkembang biak dan pertumbuhan anaknya juga tergolong cepat.
Kambing Peranakan Etawa adalah ternak dwi guna, yaitu sebagai penghasil susu dan sebagai penghasil daging (Williamson dan Payne, 1993). Kambing PE adalah bangsa kambing yang paling populer dan dipelihara secara luas di India dan Asia Tenggara (Devendra dan Burns, 1994). Ciri-ciri kambing PE adalah warna bulu belang hitam putih atau merah dan coklat putih; hidung melengkung; rahang bawah lebih menonjol; baik jantan maupun betina memiliki tanduk; telinga panjang terkulai; Memiliki kaki dan bulu yang panjang (Sosroamidjoyo, 1984). Kambing PE telah beradaptasi dengan baik terhadap kondisi dan habitat Indonesia (Mulyono, 2003).
Kambing merupakan hewan domestikasi tertua yang telah bersosialisasi dengan manusia lebih dari 1000 tahun. Kambing tergolong pemamah biak, berkuku genap dan memiliki sepasang tanduk yang melengkung. Kambing merupakan hewan pegunungan hidup dilereng-lereng yang curam yang meiliki sifat adaptasi yang cukup baik terhadap perubahan musim (Sarwono,2009). Mulyono dan Sarwono (2010) menyatakan kambing Peranakan Etawa (PE) merupakan hasil persilangan antara kambing Etawa dari India dengan kambing kacang yang penampilannya mirip Etawa tapi lebih kecil. Kambing Peranakan Etawa (PE) memiliki dua kegunaan, Yaitu sebagai penghasil susu (perah) dan kambing potong.
Sodiq dan Abidin (2008) menyatakan bahwa kambing Etawa berasal dari wilayah Jamnapari (India), sehingga kambing ini disebut juga sebagai kambing Jamnapari. Kambing Etawa merupakan kambing yang paling populer di Asia Tenggara. Di negara asalnya kambing Etawa termasuk kambing tipe dwiguna, yaitu sebagai penghasil susu dan daging. Kambing Etawa memiliki postur tubuh besar, telinga panjang menggantung, bentuk muka cembung serta bulu dibagian paha belakang sangat panjang. Subandriyo (1995) menyatakan bahwa ciri khas kambing Peranakan Etawa (PE) antara lain bentuk muka cembung melengkung dan dagu berjanggut, telinga panjang, lembek menggantung, dan ujungnya agak berlipat, ujung tanduk agak melengkung, tubuh tinggi, pipih, bentuk garis punggung yang mengombak ke belakang, bulu tumbuh panjang di bagian leher, pundak, punggung dan paha, bulu panjang dan tebal. Warna bulu ada yang tunggal putih, hitam dan coklat, tetapi jarang ditemukan. Kebanyakan terdiri dari dua atau tiga pola warna, yaitu belang hitam, belang coklat dan putih betotol hitam.


BAB III
METODE PELAKSANAAN
3.1 Waktu dan tempat pelaksanaan
            Praktek Kerja Lapangan (PKL) dilaksanakan Mulai tanggal 22 September 2016 sampai 22 Oktober 2016. Lokasi kegiatan PKL di Balai Besar Inseminasi Buatan Singosari-Malang.
3.2 Variabel yang Diamati
            Variabel yang diamati adalah Sebagai Berikut :
1.      Pengamatan Lokasi kandang Kambing Pejantan PE di BBIB Singosari,
2.      Tata Cara Pemeliharaan Kambing Pejantan PE Di BBIB singosari yang meliputi:
a.       Perkandangan,
b.      Pemberian pakan yang baik, Dan
c.       Pencegahan Penyakit.
3.3  Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam kegiatan PKL ini adalah partisipasi aktif dalam proses pemeliharaan dan observasi secara langsung yaitu dengan pengisian daftar hadir masuk dan pulang serta mengamati proses tata laksana pemeliharaan di peternakan kambing pejantan (PE) di BBIB singosari-Malang serta hasil teori dan wawancara di lapangan.




BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Profil Umum BBIB singosari
4.1.1 Deskripsi Lokasi dan instansi
            BBIB singosari terletak di desa toyomarto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, 20 km sebelah utara kota malang, Dengan ketinggian 800 – 1200 m di atas permukaan laut. Rataan  suhu udara berkisar antara 16 – 22áµ’C, dengan kelembaban berkisar antara 70 – 90% dan curah hujan 2.233 mm/ Tahun. BBIB Singosari memiliki areal seluas 67,72 hektar dilengkapi dengan bangunan Perkantoran, Asrama, Gedung belajar, Audotorium, Guest house, Kandang sapi dan kambing, Laboratorium, Arena penampungan, Kebun rumput, Gudang, Garasi, Perumahan dinas, Kereta biosecurity dan Alat mesin.
            Balai besar inseminasi buatan (BBIB) singosari merpakan unit pelaksana teknis (UPT) direktorat jendral peternakan dan kesehatan hewan. Sesuai dengan peraturan menteri pertanian No.40/ permentan/ OT. 140/ 2012, Tanggal 5 juni 2012, BBIB singosari merupakan unit pelaksana teknis eselon II B yang bertanggung jawab kepada direktur jendral peternakan dan kesehatan hewan. Balai besar inseminasi buatan (BBIB) singosari selama lebih dari dua puluh delapan tahun telah memproduksi semen beku dari sembilan bangsa sapi (Limousin, Simental, Aberdeen Angus, Brahman, Ongole, Madura, bali dan Friesien Holstein) dan dua bangsa kambing (Peranakan ettawa, dan Boer dan Borawa).





Motto dari BBIB Singosari :
“Setetes Mani Sejuta Harapan”
Gambar 1. Gambar Motto BBIB Singosari
            BBIB Singosari memiliki motto yang telah terregistrasi di Departemen hukum dan Hak Asasi Manusia No. IDM000138723. Dengan Motto tersebut BBIB singosari senantiasa memproduksi semen beku berkualitas sesuai dengan SNI 01-4869, 1-2008, dengan menggunakan bahan pengencer yang berkualitas dan mesin-mesin modern. Sebagai jaminan terhadap kualitas semen beku produksi BBIB singosari, Laboratorium Uji mutu semen BBIB singosari telah terakreditas yang kedua kali pada tanggal 19 Februari 2010, Menerapkan dan memelihara sistem mutu sesuai ISO/IEC 17025:2005.
            BBIB singosari memiliki komitmen yang kuat untuk memajukan dunia peternakan di indonesia. Hal ini diwujudkan dalam bentuk program progeny testing / Uji Zuriat yang telah dilaksanakan bekerjasama dengan pemerintah jepang dalam proyek ATA-233 (The Strengthening of Singosari AI centre). Program ini telah menghasilkan FH Elite Indonesia yang memiliki mutu genetik yang tinggi dan mampu beradaptasi dengan baik terhadap iklim Tropis.
4.1.2 Sejarah Perkembangan BBIB Singosari
            Laboratorium semen beku pertama di indonesia didirikan di wonocolo Surabaya pada tahun 1976 oleh pemerintah daerah jawa timur yang bekerjasamadengan pemerintah Belgia (AB 05 dan ATA 73). Laboratorium tersebut diambil alih dan ditetapkan sebagai cabang balai inseminasi buatan wonocolo oleh pemerintah pusat pada tahun 1982 dengan surat keputusan menteri pertanian No. 314/ Kpts/ Org/ 1978, Tanggal 25 Mei 1978. Tahun 1982 Laboratorium tersebut pindah ke singosari Malang dan pada tahun 1984 di tetapkan sebagai cabang balai inseminasi buatan singosari oleh Direktur Jendral Peternakan. Tahun 1986, BIB singosari bekerjasama dengan pemerintah jepang dalam proyek pengembangan BIB singosari (the Strengthening of Singosari AI Centre-ATA 233) melalui Japan International Cooperation Agency (JICA) sejak saat itu dikembangkan program uji Zuriat (Progeny Test). Status BIB kemudian meningkat menjadi balai inseminasi buatan singosari pada tanggal 29 Februari tahun 1988 dengan surat keputusan menteri pertanian No. 193/ Kpts/ OT. 212/2/1998, dan pada tahun 1996 ditetapkan menjadi pusat pelatihan Inseminasi Buatan Singosari pada tahun 2004. BBIB Singosari di tetapkan menjadi PK-BLU pada tahun 2010 berdasarkan surat keputusan menteri keuangan No: 54/ KMK/.05/2010. Pada tahun 2012 perubahan struktur organisasi sesuai dengan peraturan menteri pertanian No: 40/Permentan/OT.140/6/2012 tanggal 5 juni 2012.
4.1.3 Tugas Dan Fungsi BBIB Singosari
            Sesuai dengan peraturan Menteri pertanian No. 40/ Permentan / OT.140/6/2012, Tanggal 5 juni 2012, BBIB Singosari memiliki tugas pokok Produksi, Distribusi, Pemasaran dan pemantauan mutu semen ternak unggul serta pengembangan inseminasi buatan. BBIB Singosari memiliki fungsi Sebagai Berikut :
1.      Program, Evaluasi dan laporan kegiatan produksi, {Pemasarandan pemantauan mutu semen ternak unggul, Serta pengembangan inseminasi Buatan.
2.      Pelaksanaan produksi dan pemberian saran teknis produksi semen ternak uggul.
3.      Pelaksanaan pengujian dan pemantauan mutu semen ternak unggul.
4.      Pelaksanaan pengembangan inseminasi buatan dan metode produksi.
5.      Pelekasanaan pemeliharaan pejantan ternak unggul.
6.      Pelaksanaan perawatan kesehatan pejantan ternak unggul.
7.      Pelaksanaan pengawasan dan penyediaan pakan pejantan ternak unggul.
8.      Pelaksanaan pengujian keturunan dan peningkatan mutu genetik pejantan ternak unggul.
9.      Pelaksanaan kerja sama dan optimalisasi pemanfaatan sumber daya.
10.  Pelaksanaan penyimpanan, pendistribusian dan pemasaran hasil produksi.
11.  Pengelolaan prasarana dan sarana produksi.
12.  Pengelolaan informasi dan promosi hasil produksi.
13.  Pengelolaan urusan tata usaha, rumah tangga dan perlengkapan.
4.1.4 Visi Dan Misi
            Didalam melakukan tugas pokok dan fungsi BBIB Singosari mempunyai Visi dan Misi sebagai berikut :
Visi : Komersialisasi potensi singosari menuju pasar internasional
Misi :
1.      Meningkatkan produksi semen beku, diverifikasi produk yang berkualitas melalui pengujian yang akurat dan teknologi mutahir.
2.      Melaksanakan replacement pejantan dan produksi bibit unggul secara berkeseimbangan yang ditunjang oleh optimalisasi pakan ternak dan biosecurity.
3.      Meningkatkan profesionlisme SDM melalui pendidikan dan pelatihan serta promosi dan penempatan berdasarkan kompotensi guna tercapainya kesejahteraaan.
4.      Mengoptimalkan fasilitas serta meningkatkan nilai tambah asset fisik dan intelektual dan pengembangan hak paten-merk.
5.      Meningkatkan kualitas pelayanan, pemasaran dan penjualan produk, monitoring dan evaluasi.
6.      Meningkatkan tertib administrasi dan keuangan, efisien dan akuntabilitas, koordinasi dan komunikasi serta pelayanan guna mewujudkan manajemen bisnis modern.
4.1.5 Struktur Organisasi BBIB Singosari
            Struktur organisasi BBIB Singosari terdiri dari kepala balai, yang membawahi satu bagian umum, kepala bidang pelayanan teknis, serta kepala bidang pemasaran dan informasi, serta kelompok jabatan fungsional. Kepala bagian umum membawahi kepala sub bagian program dan ke uangan, kepala sub bagian kepegawaian dan tata usaha, serta kepala sub bagian rumah tangga dan perlengkapan. Kepala bidang pelayanan teknis membawahi kepala seksi pemeliharaan dan peningkatan mutu genetik ternak, serta kepala seksi produksi semen dan pengembangan IB. Kepala bidang pemasaran dan informasi membawahi kepala seksi informasi dan pemantauan mutu semen, serta kepala seksi pemasaran dan kerja sama.
Berikut adalah gambar bagan struktur organisasi di BBIB singosari :

KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL

KEPALA

SUB BAGIAN PROGRAM DAN KEUANGAN

BIDANG PELAYANAN  TEKNIK

BIDANG PEMASARAN DAN INFORMASI

SEKSI PEMELIHARAAN DAN PENINGKATAN MUTU GENETIK TERNAK

SEKSI PRODUKSI SEMEN DAN PENGEMBANGAN INSEMINASI BUATAN

SEKSI PEMASARAN DAN KERJA SAMA

SEKSI INFORMASI DAN PEMANTAUAN MUTU SEMEN

BAGIAN UMUM

SUB BAGIAN KEPEGAWAIAN DAN TATA USAHA

SUB BAGIAN RUMAH TANGGA DAN PERLENGKAPAN
 




















Gambar 2. Struktur Organisasi BBIB Singosari
4.2 Pembahasan
4.2.1 Pengamatan Lokasi Kandang kambing Pejantan PE Di BBIB Singosari
            BBIB singosari terletak di desa toyomarto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, 20 km sebelah utara kota malang, Dengan ketinggian 800 – 1200 m di atas permukaan laut. Rataan  suhu udara berkisar antara 16 – 22áµ’C, dengan kelembaban berkisar antara 70 – 90% dan curah hujan 2.233 mm/ Tahun. Ditinjau dari ketinggian, letak, temperatur dan kelembaban, serta curah hujannya, Lokasi ini sangat cocok untuk pemeliharaan ternak terutama ternak ruminansia dalam hal ini kambing. Kambing  mudah beradaptasi dengan berbagai lingkungan, bahkan di lingkungan-lingkungan yang paling buruk pun, Hewan ini masih bisa bertahan hidup, Sehingga mudah di pelihara dan dikembanganbiakkan di dataran rendah maupun di dataran tinggi (Anonimus, 1994).
            Sesuai dengan pendapat Mulyono (1999), Yaitu dalam area perkandangan harus memenuhi syarat  teknis yaitu kandang dan aspek lainnya yaitu sumber air, Peralatan pemeliharaan, Letak lokasi terhadap perumahan dan jalan, Ketersediaan kendraan, tempat pembuangan sampah dan penampungannya. Setiap hendak melakukan suatu usaha peternakan hendaklah dipikirkan terlebih dahulu berbagai hal yang mendukung keberhasilan usaha peternakan.
            BBIB singosari memiliki satu unit kandang kambing yang di lengkapi tempat penampungan semen, tempat pembuangan kotoran, dan tempat penyimpanan pakan. Lokasi kandang kambing BBIB singosari terletak jauh dari lokasi pemukiman penduduk sehingga polusi udara yang di hasilkan dari ternak kambing tidak menyebabkan polusi udara. Dan lokasi kandang kambing BBIB singosari terletak jauh dari kandang sapi.




4.2.2 Pemilihan Jenis Ternak Pejantan
1. Kambing pejan peranakan etawa (PE)
   Gambar 3. Kambing Pejantan PE
            BBIB Singosari selalu menjaga kemurnian dan keunggulan bibit, sebagai penghasil semen beku, dengan cara pemeliharaan yang baik dan dengan pemilihan bibit yang berkualitas baik pula. Ciri-ciri kambing PE yaitu muka cembung, warna bulu belang hitam dan kadang-kadang putih telinga panjang berkisar 18-30 cm, Bobot badan jantan kurang lebih 80-100 kg, Tinggi pundak berkisar 76-90 cm. Kambing jantan rambut bagian atas, pundak dan bawah leher lebih tebal dan agak panjang, Warna rambut bervariasi dari coklat muda sampai hitam (Anonim, 2009).
            Mulyono (1999) menambahkan bahwa ciri-ciri kambing pejantan yang baik adalah tidak terserang penyakit, Tidak cacat tubuh, Umur 1,5 – 2 tahun, Alat kelamin dapat ereksi, mempunyai ukuran tubuh yang besar sesuai umur, nafsu makan besar, mempunyai buah zakar yang sama besar dan simetris. Ukuran tubuh normal, tubuh panjang dan besar dada dalam dan lebar, kaki kokoh dan otot-otot kuat.
            Di BBIB Singosari Memelihara ternak kambing pejantan peranakan Etawa sebanyak 9 ekor dengan berat badan 80-100 kg bentuk badan tinggi besar dan tegak, tinggi badan ± 90 cm. Dan kondisi kesehatan ternak pejantan di BBIB Singosari sangat baik.
4.2.3 Perkandangan
            Kandang adalah hal terpenting dalam usaha peternakan. Sistem perkandangan di BBIB Singosari Malang sudah dilakukan secara tepat sehingga ternak merasa nyaman untuk menjalankan segala aktivitasnya.
            Hasil wawancara dan materi yang di dapat selama mengikuti kegiatan PKL di kandang kambing BBIB Singosari menurut Bapak. Shalaludin salah satu pegawai BBIB singosari Bahwa untuk membuat suatu kandang peternakan harus memperhatiakan hal sebagai berikut : Kandang yang akan dibuat harus bisa tahan dalam jangka waktu yang lama, Bahan – bahan yang akan di gunakan di usahakan Murah dan mudah di dapatkan.

Gambar 4. Di lihat dari tipe atap dan tipe lantai
            Ukuran kandang kambing pejantan PE di BBIB Singosari menurut Bpak. Iwan memiliki ukuran 6 x 2,5 meter untuk tiap satu ekor ternak. Tipe kandang kambing pejantan PE di lihat dari atapnya adalah tipe Semi monitor dan dilihat dari lantai tipe semi panggung dan semi pedlok . Sistem perkandangan ini sangat cocok untuk kambing pejantan karena ternak tentunya merasa nyaman saat berada di dalam kandang tersebut.   

  Gambar 5. Gambar tipe kandang semi pedok (tempat umbaran)
Kandang disediakan agar mempermudah dalam pengelolaan, memudahkan pengawasan, memudahkan dalam pemberian pakan dan pengumpulan kotoran, pelindung dari sinar matahari, pelindung dari hewan liar pemangsa, Dan pencegah timbulnya suatu bibit penyakit (Tomaszewska, 1993).
Mulyono (1999), Berpendapat bahwa palungan letaknya menempel pada sisi luar kandang dengan ukuran 25 x 25 x 50 cm yang panjangnnya disesuaikan dengan panjang kandang, dan celah kandang untuk mengeluarkan kepala kambing pada saat makan adalah 30.
Tempat pakan di BBIB singosari dibuat letaknya menempel langsung pada sisi luar kandang yang digabung langsung dengan tempat minum dengan ukuran yang di sesuaikan dengan kebutuhan dan panjang kandang.
Gambar 6. Gambar tempat pakan dan air minum
4.2.4 Pemberian Pakan dan Minum
            Pakan yang diberikan di BBIB singosari adalah pakan hijauan, konsentrat, dan kacang – kacangan. Pakan adalah suatu bahan yang dikonsumsi ternak yang didalamnya mengandung energi dan zat-zat gizi (atau keduanya). Pakan adalah bahan yang dimakan dan dicerna oleh seekor hewan yang mampu menyajikan unsur hara atau nutrien yang penting untuk perawatan tubuh, pertumbuhan, penggemukan, reproduksi dan produksi (Hartadi et al.,1986). Menurut Setiawan dan Arsa (2005), secara umum pakan ternak kambing sebenarnya hanya terdiri dari tiga jenis, yaitu pakan kasar, pakan penguat dan pakan pengganti. Pakan kasar merupakan bahan pakan berkadar serat kasar tinggi. Bahan ini berupa pakan hijauan yang terdiri dari rumput dan dedaunan. Pakan penguat merupakan bahan pakan berkadar serat rendah dan mudah dicerna seperti konsentrat, ampas tahu dan bubur singkong. Sementara pakan pengganti merupakan pakan hijauan yang sudah difermentasi.
            Pemberian pakan kambing pejantan di BBIB singosari di berikan pada pagi dan sore hari yakni pada pagi hari di berikan pada pukul 06.30 dan sore hari di berikan pada pukul 14.00 dengan urutan sebagai berikut : pada pagi hari diberikan Hijauan, Konsentrat. Dan pada sore hari di berikan Kacang – kacangan, Konsentrat, Hijauan. Dan kebutuhan pakan ternak per ekor 8 kg per hari. Pemberian minum untuk ternak sudah disediakan di tempat minum yang telah di buat bersamaan tempat pakan sehingga ternak bisa langsung minum setelah makan. Jenis – jenis pakan hijauan yang sering diberikan pada ternak di BBIB singosari berupa : Rumput odot, Rumput gajah mini, star grest, kaliandra, lamtoro, legum, indicovera, gamal.


   Gambar 7. Pemberian pakan hijauan pada ternak kambing
1.      Rumput Gajah Odot
 
  Gambar 8. Rumput gajah Odot

2.      Rumput kaliandra
 
Gambar 9. Jenis rumput kaliandra
           Kaliandra merupakansalah satu leguminosa pohon atau semak yang memiliki beberapa spesies, satu di antaranya yang paling banyak dikenal adalah jenis kaliandra bunga merah (Calliandra calothyrsus). Kaliandra termasuk dalam famili Leguminoseae dan sub famili Mimosaceae (Palmer et al 1994). Tanaman yang bentuk perdu (semak) ini memiliki batang berkayu, Bertajuk dan dapat mencapai tinggi 8 meter. Tanaman kaliandra di balai besar inseminasi buatan (BBIB) Singosari khusus untuk pakan hijauan kambing. Waktu pemberian pada kambing diberikan secara campur dengan hijauan lain tapi bisa juga tidak. Hal ini bertujuan agar kandungan yang berada di dalam masing-masing tanaman dapat saling melengkapi, Sehingga kambing akan tercukupi kebutuhan nutriennya.       
3.      Gamal
 
Gambar 10. Jenis rumput Gamal
          Gamal berbentuk pohon, semak, daun majemuk bersisip ganjil, bunga berbentuk malai, lukar dari ketiak daun bunga berwarna merah jambu, buah polong, akar cukup dalam. Dapat diperbanyak dengan menggunakan stek ataupun biji. Gamal ditanam sebagai penahan angin, pakan ternak dan pagar hidup. Tanaman yang di perbanyak dengan stek sudah dapat dipanen pada usia dibawah satu tahun. Tanaman gamal di BBIB Singosari digunakan untuk pakan ternak kambing.
4.      Stargrasst
  
Gambar 11. Jenis rumput stargrass
          African stargrass dapat tumbuh dengan baik didaerah dengan curah hujan 500 -1200 mm dan tidak dapat tumbuh pada tanah yang tergenang dan kekurangan nitrogen. African Stargrass dapat di berproduksi sebanyak 47,0 – 55,6 ton/ha/tahun dengan pemberian 150 atau 300 kg nitrogen /ha/tahun dan interval pemanenan selama 21 hari. Kandungan nutrien African Stargrass adalah 32% bahan kering; 3,4% abu; 0,6% lemak kasar; 9,6% serat kasar; 15,4% BETN; dan 2,8% protein kasar (hardtadi et al., 1986).
4.2.5 Perawatan Ternak
            Perawatan ternak sangat di perlukan agar ternak tetap sehat sehingga ternak dapat dengan berproduksi secara maksimal. Perawatan ternak di BBIB Singosari dilakukan secara rutin, antara lain : pembersihan kandang, pemotongan kuku, memandikan ternak, sanitasi kandang dan sekitarnya, serta pencegahan penyakit.
            Kandang dibersihkan setiap hari pukul 06.30 WIB sampai selesai. Pembersihan yang dilakukan antara lain menyapu lantai kandang, lantai dasar kandang (kolong kandang), palungan (tempat pakan), tempat minum, selokan, dan lingkungan sekitar kandang. Peralatan yang digunakan adalah sapu lidi, sekop, garu (sekop garpu), dan Argo dorong. Sisa pakan pada galungan dibersihkan dan disapu sehingga hijauan yang dimakan kambing selalu segar dan baru. Hal ini sesuai dengan pendapat mulyono (1999), bahwa pembersihan kandang dilakukan secara rutin, terutama pembersihan kotoran lantai kandang dan kolong kandang, karena kotoran yang menumpuk akan memudahkan kuman penyakit, parasit, dan jamur berkembang biak.

Gambar 12. Membersihkan faces
            Perawatan ternak yang lain adalah memandikan ternak. Di BBIB Singosari ternak dimandikan dua kali dalam sebulan secara teratur dan bulu kambing di tata secara baik dengan cara di gunting memandikan ternak dilakukan secara bergantian. Memandikan ternak dilakukan pada siang hari agar ternak tidak mengalami kembung. Memandikan ternak ini adalah upaya untuk mencegah timbulnya penyakit kulit. Menurut Mulyono (1999), khusus untuk pejantan, memandikan ternak dan memberi kesempatan untuk bergerat setelah mandi dapat meningkatakn kekuatan dan produktivitas sperma yang di hasilkan.
            Di BBIB Singosari pemotongan kuku dilakukan apabila kuku ternak kambing sudah tumbuh dan mengganggu aktivitas kambing tersebut untuk waktu pemotongan disesuaikan dengan kondisi ternak apabilakukunya sudah tumbuh dan panjang maka perlu di potong. menurut saad (1991), kuku dapat tumbuh memanjang dan dapat berakibat :
1.      Menggangu gerak kambing saat berjalan.
2.      Kuku yang terlalu panjang menyebabkan hewan ternak mudah tergelincir.
3.      Nafsu makan menurun, karena ternak kesulitan untuk berjalan dan berdiri untuk mengambil makanan dan minuman, kecuali terpaksa.
4.      Dibagian bawah kuku menjadi terdapat rongga yang biasanya dipenuhi kotoran sehingga memungkinkan pertumbuhan penyakit akibatnya kuku menjadi busuk (bau).
Pemotongan kuku dilakukan dengan menggunakan pisau tajam dan gunting, bagian yang di potong adalah bagian kuku yang tidak bersyraf dan berpembuluh darah. Apabila pada saat pemotongan kuku terdapat luka maka luka tersebut harus segera dibersihkan dan diolesi dengan obat septik.
4.2.6 Penanggulangan Dan pencegahan penyakit
Kondisi kesehatan ternak pejantan sangat penting untuk menunjang kualitas semen yang di hasilkan pada saat penampungan. Pengelolaan kesehatan yang baik adalah dengan cara pencegahan penyakit dan pengobatan.
Pencegahan pertama yang dilakukan di BBIB Singosari yakni dengan cara dilakukan karantina terhadap ternak pejantan yang akan masuk. Selama di karantina dilakukan pemeriksaan kesehatan, Vaksinasi dan penyemprotan anti ekstoparasit. Tindakan karantina ini dilakukan untuk mencegah wabah penyakit menular kepada ternak pejantan lainnya.
Pencegahan penyakit yang di lakukan di BBIB Singosari adalah dengan cara sanitasi kandang, sehingga dapat mencegah timbul dan berkembangnya penyakit. Pembersihan kandang dilakukan setiap hari dengan membersihkan kandang utama, pedok, tempat pembuangan kotoran, dan memotong rumput sekitar kandang.
Usaha sanitasi kandang adalah upaya untuk mencegah bibit penyakit (Agent) berkembang biak di kandang. Selain pembersihan kandang dan sekitar lingkungan kandang yang dilaksanakan setiap hari secara rutin, setiap sebulan empat kali dilakukan penyemprotan kandang dengan desinfektan.

Gambar 13. Penyemprotan Desinfektan
Sedangkan penyakit yang biasa menyerang ternak kambing adalah kudis, cacingan dan kembung. Penyakit kudis biasaanya  menyerang ternak yang jarang dimandikan atau keadaan kandang yang sangat kotor. Penyakit kulit ini sangat beragam tergantung jenis parasit yang menyerangnya, salah satunya adalah miasis atau kudis berulat. Menurut Saad (1991), miasis merupakan penyakit kulit akibat serangan larva sejenis lalat dibagian bawah kulit ternak, menyerang bagian kulit yang terluka. Penyebab penyakit ini adalah larva lalat Chysomyia Bezziana yang bersarang dibawah kulit yang terluka, menghisap darah dan menyebabkan borok. Penyakit ini sering terjadi di daerah yang beriklim tropik, berawal dari luka yang tidak dirawat.
     Di BBIB Singosari Malang, ternak kambing yang terkena kudis sedikit atau hampir tidak ada. Hal ini karena perawatan ternak kambing pejantan PE di BBIB Singosari Malang sangat baik. Jika terdapat kambing yang terkena kudis, maka tindakan pertama yang dilakukan adalah dengan memisahkan antara kambing yang sakit dengan kambing yang sehat agar tidak tertular.
Perawatan penyakit ini yaitu dengan mencukur bulu rambut sekitar luka, kemudian larva dibuang dari bagian luka sebelum pengobatan dilakukan. Larva ini dapat dimusanakan dengan menggunakan larutan hidrogen peroksida (Saad, 1991). Di BBIB Singosari jika terdapat ternak yang luka, luka tersebut disemprot dengan Gusanex untuk mencegah lalat berkembang biak.
Penyakit lain yang sering menyerang kambing adalah kembung dan cacing. Di BBIB Singosari, Penyakit kembung dan cacing ini dicegah dengan jalan pemberian pakan hijauan yang sudah dilayukan terlebih dahulu, dan membersihkan tempat pakan dan feces.
Penyakit kembung disebabkan karena adanya gangguan pencernaan. Gangguan ini disebabkan karena pertukaran pakan atau salah makan, akibatnya rumen menjadi tegang da berisi gas bebas (saad, 1991) pengobatannya yaitu dengan kaki kambing bagian depan di angkat keatas sampai gas dalam rumen keluar. Di BBIB Singosari pengobatan penyakit kembung di tusuk pada bagian perut dengan alat khusus.
Selain kembung, penyakit yang biasanya terjadi pada ternak di BBIB Singosari yakni penyakit Diare, penyakit ini diakibatkan kelebihan makanan konsentrat dan pemberian pakan yang kurang teratur. Pencegahan yang dilakukan di BBIB singosari yakni memberikan pakan secara teratur.
Pada saat pelaksanaan praktek kerja lapangan, di BBIB singosari Malang hampir tidak ada atau bahkan sama sekali tidak ada ternak kambing yang terjangkit penyakit-penyakit tersebut di atas. Hal ini dikarenakan usaha sanitasi yang dilakukan sangat baik.



BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
            Kambing pejantan perankan etawa yang di pelihara di BBIB singosari – Malang berjumlah 9 ekor, pemberian pakan meliputi Hijauan 8 Kg/ekor/hari dan pemberian konsentrat ½ kg/ hari/ekor dan waktu pemberian pakan dua kali dalam sehari yakni pada pagi hari dan sore hari, Pada pagi hari yakni pada pukul 06.30 dan pada sore hari pada pukul 14.00.
            Usaha pencegahan penyakit yang dilakukan yaitu dengan membersihkan kandang dan lingkungan sekitarnya, memandikan ternak,pemotongan kuku jika sudah mengganggu aktivitas ternak itu sendiri, penyemprotan kandang dengan desinfektan.
            Untuk mendapatkan hasil yang baik dalam usaha peternakan maka di perlukan tata cara pemeliharaan yang baik pula. Karena hal ini sangat menentukan keberhasilan suatu usaha peternakan khususnya peternakan kambing.
            Berdasarkan hasil pegamatan secara langsung dengan ikut serta dalam pelaksanaan kegiatan pemeliharaan kambing pejantan Peranakan etawa (PE) di BBIB singosari Malang yang meliputi pemeliharaan kandang, pemberian pakan dan air minum, dan perawatan kesehatan ternak dilakukan dengan sangat baik.
5.2 Saran
            Ada Beberapa hal yaang perlu diperhatikan dalam tata cara pemeliharaan kambing pejantan peranakan ettawa (PE) tersebut adalah:
1.      Sesuai hasil pengamatan dan hasil ikut serta dalam proses tata cara pemeliharaan di BBIB singosari disarankan agar kandang yang telah rusak di perbaiki.
2.      Diharapkan bagi masyarakat peternak dapat memahami mengenai tata cara pemeliharaan kambing pejantan PE dengan baik agar hasil produksi kambing Peranakan Ettawa (PE) di indonesia semakin meningkat.
3.      Bagi masyarakat yang ingin mendapatkan bibit unggul kambing pejantan peranakan ettawa dapat diperoleh di BBIB Singosari Malang yaitu berupa semen beku dalam straw dengan program IB (Inseminasi Buatan).
4.      Saran penulis kedepan kepada jurusan peternakan agar Disaat mahasiswa melakukan presentase di Lokasi PKL jangan meninggalkan presentase yang sedang berjalan karena harapan pembimbing lapangan adalah kehadiran para dosen yang akan menjeput mahasiswanya, hal ini bertujuan agar bukan hanya mahasiswa yang mendapat kesan yang baik tapi dosen dan khususnya jurusan peternakan kedepannya juga mendapat kesan yang baik.




DAFTAR PUSTAKA
Anonimus. 1994 tehnik pengembangan peternakan, seri : pedoman beternak kambing. Direktorat Jendral Peternakan Jakarta.
Mulyono, 1999. Teknik pembibitan kambing dan domab. Penebar semangat. Jakarta
Sarwono, B, 1999. Beternak kambing unggul. Penebar Swadaya. Jakarta
Mulyono, S. dan B. Sarwono, 2010. Penggemukan Kambing Potong. Penebar Swadaya, Jakarta.
Sodiq, Akhmad dan zainal abidin. 2008. Meningkatkan produksi susu kambing peranakan etawa. Agromedia pustaka utama. Jakarta.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar